Sabtu, 19 November 2011

PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK

MEMBANGUN KONSEP PECAHAN DALAM MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK PADA SISWA SD

Disusun oleh : Samsul Feri Apriyadi

Jurusan pendidikan Matematika Fakultas matematika dan Ilmu pengetahuan Alam Universitas Negri Yogyakarta

ABSTRAKSI

Fenomena yang terjadi pada siswa SD yang masih kesulitan dalam memahami konsep pecahan,dimana mereka dapat menggunakan rumus tetapi tidak tahu dari mana asalnya rumus itu dan mengapa rumus itu digunakan. Sehingga berpengaruh pada kualitas hasil pembelajarannya yang masih sangat rendah. Salah satu upaya agar para siswa sekolah dasar dapat termotivasi dan menyukai materi ini adalah dengan menerapkan pendekatan matematika realistik atau Realistic Mathematics Education (RME). Pendekatan metematika realistik yang diterapkan, diharapkan dapat membuat proses pembelajaran konsep pecahan dalam matematika jadi lebih menarik dan menyenangkan bagi siswa. Selain itu, penerapan pendekatan ini dapat menanamkan konsep dan materi pelajaran yang lebih bermakna karena disampaikan dengan menggunakan konteks yang nyata.

Selain itu, Pembelajaran pecahan dengan pendekatan matematika realistik menekankan siswa agar dapat memahami konsep pecahan melalui pendekatan realistik, sehingga siswa tidak memandang suatu pecahan hanya sebatas bilangan semata. Siswa mengetahui bahwa pecahan merupakan bagian dari keseluruhan suatu kesatuan utuh. Dan juga proses pemahaman konsep pecahan yang melibatkan siswa akan menjadikan siswa aktif untuk menemukan dan mengkontruksi konsep sesuai dengan kenyataannya. Aktivitas nyata ini dilakukan langsung oleh siswa dengan bimbingan dari guru

Keyword : Konsep Pecahan,Pendekatan Matematika Realistik.


PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG MASALAH

Melakukan operasi pecahan masih dianggap sulit. Banyak siswa yang menganggap operasi pecahan dalam matematika adalah sulit dan menjadi momok bagi hampir semua siswa. Pecahan yang merupakan operasi dasar dalam matematika wajib dikuasai. Karena operasi pecahan sangat sering di gunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kita ketahui bahwa pembelajaran matematika selama ini terlalu dipengaruhi pandangan bahwa matematika adalah alat yang siap pakai. Pandangan ini mendorong guru bersikap cenderung memberi tahu konsep/ sifat/ teorema dan cara menggunakannya. Guru cenderung mentransfer pengetahuan yang dimiliki ke pikiran anak dan anak menerimanya secara pasif dan tidak kritis. Adakalanya siswa menjawab soal dengan benar namun mereka tidak dapat mengungkapkan alasan atas jawaban mereka. Siswa dapat menggunakan rumus tetapi tidak tahu dari mana asalnya rumus itu dan mengapa rumus itu digunakan. Keadaan demikian mungkin terjadi karena di dalam proses pembelajaran tersebut siswa kurang diberi kesempatan dalam mengungkapkan ide-ide dan alasan jawaban mereka sehingga kurang terbiasa untuk mengungkapkan ide-ide atau alasan dari jawabannya.

Atas dasar itulah perlu adanya usaha untuk dapat memahami dan menyukai konsep pecahan, maka penulis akan membahas masalah ini dalam makalah yang berjudul “ membangun konsep pecahan dalam matematika melalui pendekatan matematika realistik pada siswa”.Usaha untuk membangun konsep dasar pecahan dalam matematika tersebut tentu perlu disampaikan secara bermakna (meaningful) serta harus mampu menunjukkan manfaat dari konsep pecahandalam memecahkan berbagai masalah dalam kehidupan (applicability) (Sabandar, 2001). Materi ini diharapkan tidak hanya disampaikan dengan cara mentransferkan informasi berupa konsep atau rumus matematika dari guru kepada siswa, akan tetapi proses pembelajaran pada materi pokok operasi pecahan ini haruslah ditemukan oleh siswa secara bermakna.Salah satu upaya agar proses pembelajaran matematika dapat dirasakan bermakna oleh siswa adalah dengan menerapkan pendekatan matematika realistik (PMR). Pendekatan matematika realistik yang diterapkan dalam proses pembelajaran matematika membuat siswa tidak menerima secara langsung konsep dan rumus matematika yang diberikan oleh guru melalui penjelasan. Akan tetapi siswa membangun sendiri pemahaman konsep matematika melalui hal-hal yang sudah diketahui. Hal ini mengantarkan siswa untuk melakukan kegiatan diskusi, kolaborasi, interpretasi, dan berargumentasi dengan guru dan teman sekelasnya untuk dapat menemukan kembali konsep pecahanbilangan bulat oleh siswa itu sendiri.

PEMBAHASAN

KAJIAN PUSTAKA

1. Konsep pecahan dalam matematika

Konsep dalam matematika adalah suatu proses abtraksi untuk mengenal bahwa pengalaman-pengalaman baru yang terbentuk mempunyai persamaan-persamaan dengan golongan yang sudah terbentuk. Pembentukan konsep memerlukan sejumlah pengalaman yang mempunyai sesuatu yang sama.

Materi pecahan merupakan materi yang ada pada kurikulum untuk SD / MI. Kompetensi dasar yang akan dikembangkan dalam pembelajaran pecahan adalah mengenal dan menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah. Dari kompetensi dasar tersebut ditargetkan akan terlihat indikator pada siswa dimana siswa mampu menyatakan beberapa bagian dari keseluruhan ke bentuk pecahan, menyajikan nilai pecahan secara visual atau melalui gambar, mengurutkan pecahan (sejenis), membandingkan pecahan sejenis dan menuliskan pecahan pada garis bilangan (Depdiknas, 2003).

Pembelajaran pecahan dengan pendekatan matematika realistik menekankan siswa agar dapat memahami konsep pecahan melalui pendekatan realistik, sehingga siswa tidak memandang suatu pecahan hanya sebatas bilangan semata. Siswa mengetahui bahwa pecahan merupakan bagian dari keseluruhan suatu kesatuan utuh. Kegiatan pembelajaran melibatkan siswa aktif untuk menemukan dan mengkontruksi konsep yang menjadi tujuan pembelajaran. Aktivitas nyata dilakukan langsung oleh siswa dengan bimbingan dari guru.
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, siswa
berada pada tahap operasi konkrit, sehingga anak mempunyai struktur kognitif yang memungkinkan anak bisa berpikir untuk berbuat. Kehadiran model (benda) yang sudah dikenal siswa akan membantu siswa lebih memahami konsep dari pembelajaran matematika. Siswa dibimbing untuk membangun sendiri konsep pecahan sebagai suatu pengalaman belajar.

2. Pendekatan matematika realistik

Pendekatan matematika realistik menggabungkan pandangan tentang apa itu matematika, bagaimana siswa belajar matematika dan bagaimana matematika harus diajarkan (Hadi, 2005). Pendekatan matematika realistik dikembangkan berdasarkan pemikiran Hans Freudenthal yang berpendapat bahwa matematika merupakan aktivitas insani (human activities) yang harus dikaitkan dengan realitas. Berdasarkan pemikiran tersebut, pendekatan matematika realistik mempunyai ciri antara lain bahwa dalam proses pembelajaran siswa harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembali (to reinvent) matematika melalui bimbingan guru, dan bahwa penemuan kembali (reinvention) ide dan konsep matematika tersebut harus dimulai dari penjelajahan berbagai situasi dan persoalan “dunia riil” (Hadi, 2004).

Paradigma baru dalam pembelajaran sekarang ini khususnya pendekatan matematika realistik menekankan terhadap proses pembelajaran dimana aktivitas siswa dalam mencari, menemukan dan membangun sendiri pengetahuan yang dia perlukan benar-benar menjadi pengalaman belajar tersendiri bagi setiap individu. Menurut De Lange, pembelajaran matematika dengan pendekatan matematika realistik meliputi aspek berikut (Hadi, 2005) :

a) Memulai pelajaran dengan mengajukan masalah (soal) yang “riil” bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya sehingga siswa segera terlibat dalam pembelajaran secara bermakna.

b) Permasalahan yang diberikan tentu harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pelajaran tersebut.

c) Siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terdapat persoalan/ masalah yang diajukan.

d) Pengajaran berlangsung secara interaktif : siswa menjelaskan dan memberikan alasan terhadap jawaban yang diberikannya, memahami jawaban temannya (siswa lain), setuju terhadap jawaban temannya, menyatakan ketidaksetujuan, mencari alternatif penyelesaian yang lain dan melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pelajaran.

Selain konsepsi tentang siswa, pendekatan matematika realistik juga merumuskan peran guru dalam pembelajaran yaitu (Hadi, 2005) :

a) Guru hanya sebagai fasilitator belajar.

b) Guru harus mampu membangun pengajaran yang interaktif.

c) Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif menyumbang pada proses belajar dirinya, dan secara aktif membantu siswa dalam menafsirkan persoalan riil.

d) Guru tidak terpaku pada materi yang terdapat dalam kurikulum, melainkan aktif mengaitkan kurikulum dengan dunia riil baik fisik maupun sosial.


PEMBAHASAN

Untuk membangun konsep pecahan dalam matematika melalui metode pendekatan realistik siswa SD tentu tidaklah mudah. Hal ini terjadi karena siswa SD memilki pemahaman matematika yang bersifat konkrit. Untuk mengatasinya perlu adanya suatu pendekatan matematika yang lebih realistik. Yaitu dengan mengajarkan konsep awal pecahan memanfaatkan barang-barang yang ada di sekitar.

Dalam proses awal pengenalan pecahan guru memberikan visualisasi terlebih dahulu. Jadi, ketika di kelas guru tidak dapat langsung menjelaskan apa itu pecahan dengan suatu definisi atau contoh soal, tetapi dengan menggunakan contoh yang lebih realistik misalanya dengan pita. Pita tersebut dipotong menjadi dua bagian yang sama. Kemudian guru menjelaskan bahwa pita yang dibagi menjadi dua dan tiap bagian memiliki panjang yang sama. Kemudian ketika pita yang setengah bagian tadi di tambahkan dengan pita yang setengahnya hasilnya adalah panjang pita awal sebelum di potong. Ini menunjukan bahwa pecahan memiliki bentuk a/b,dimana a adalah pembilang dan b adalah penyebut.

Selain dengan menjelaskan konsep pecahan dengan menggunakan barang-barang di sekitar dapat juga dengan menampilkan video pembelajaran tentang pecahan. Membangun konsep awal sebuah pecahan pada siswa SD melalui pendekatan realistik perlu juga di dukung dari cara penyampaiannya agar konsep awal tentang pecahan benar-benar dipahami oleh siswa. Penyampaian yang lebih menggunakan contoh real yang ada lebih diingat oleh siswa. Selain itu dalam penerapan pendekatan matematika realistik guru tidak berperan sebagai sumber utama dalam proses pembelajaran di kelas. Dimana siswa sendiri yang berperan aktif dalam menemukan sebuah konsep pecahan. Namun bila terdapat kesalahan guru dapat membetulakan tanpa menyalahkan secara langsung. Ini bertujuan supaya mental awal mereka akan pecahan tidak ada kesan sulit.

Ketika siswa diberi kebebasan untuk menemukan apa itu pecahan akan timbul diskusi antar siswa, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih cair suasananya. Proses pembelajaran seperti ini dapat membuat interaksi dan peran serta siswa menjadi dominan dalam proses pembelajaran, sehingga siswa menjadi lebih aktif daripada biasanya. Bahkan hal yang cukup menakjubkan di antaranya adalah siswa yang selama ini dianggap oleh guru wali kelasnya sangat asor dan sangat pasif dalam proses pembelajaran matematika, pada saat mengikuti proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan matematika realistik siswa tersebut ternyata beberapa kali mampu bertanya dan memberikan argumennya dalam diskusi kelas yang dilaksanakan. Selain itu penarikan kesimpulan proses pembelajaran tidak diberikan oleh guru secara langsung namun kesimpulan tersebut diutarakan oleh siswa dengan sangat baik.

Hal ini menunjukkan bahwa penerapan pendekatan matematika realistik tidak hanya dapat meningkatkan motivasi dan semangat belajar siswa, namun juga materi atau konsep pelajaran yang disampaikan benar-benar dapat dipahami dengan baik oleh siswa, sehingga siswa merasakan bahwa proses pembelajaran matematika benar-benar bermakna. Ini akan memberika pengalaman sekaligus pemahaman yang mendalam akan konsep pecahan.

PENUTUP

Usaha untuk membangun konsep awal tentang pecahan melalui pendekatan matematika realistik akan meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa.Sehingga membuat siswa menyukai, merasa senang, dan senantiasa bersemangat untuk belajar matematika. Selain itu,Penerapan pendekatan matematika realistik pada pokok bahasan pecahan meberikan pemahaman yang mendalam dan tidak terlupakan karena sesuia dengan konteks yang benar-benar telah dikenal baik oleh siswa serta dapat mengaplikasi kannya dalam kehidupan nyata.

Pendekatan inimemberikan kebebasan untuk siswa dalam memahami konsep dan menciptakan interaksi dan peran serta siswa yang dominan dalam proses pembelajaran, sehingga siswa menjadi lebih aktif daripada biasanya.

DAFTAR PUSTAKA

http://h4mm4d.wordpress.com/2009/02/27/pendidikan-matematika-realistik-indonesia-pmri-indonesia/. Diakses pada tanggal 1/11/2011 .

R.Skemp,Richard. 1971. The psychology of Learning Mathematics. Inggris : Penguin Books Ltd.

Zulkardi. 2001. Realistic Matematics Education (RME): Teori, Contoh Pembelajaran, dan Taman Belajar di Internet. Bandung : UPI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar